Merantau (Part I) – Lulus SMA

first day in Germany
Penampakan saya setelah kali pertama landing di Hamburg Airport| photo : Fathoni Triyoga

Awal tahun 2013 dimana saya berada dipenghujung masa SMA, dimana saya sudah harus menentukan kemana langkah saya selanjutnya berjalan. Apakah memfokuskan diri ke kehidupan tennis atau kembali ke kehidupan sebagai karateka. Sayapun menyadari kemampuan saya dikedua bidang tersebut tidak akan maksimal apalagi berada diruang lingkup yang ada saat itu. Maka dari itu saya memutuskan lebih baik melanjutkan pendidikan, toh alhamdulillah orang tua saya lebih setuju dan juga mendukung.

Sayang dikala itu, kacamata kuda saya belum terpasang kemana saya harus melangkah. Satu sisi dengan berbagai pertimbangan dari orang tua yang mengharapkan, jikalau saya kuliahnya di Indonesia tetap tinggal di rumah. Secara tidak langsung berarti saya mesti kuliah di Jabodetabek, dimana tidak begitu banyak pilihan untuk saya. Disisi lain saya seperti mengharuskan diri saya setelah lulus SMA untuk “keluar” dari rumah untuk melatih diri menjadi orang yang mandiri dan tidak terlena di comfortzone.

Kebetulan sebagaimana yang sepertinya terdapat pada setiap sekolah memiliki jam pelajaran khusus untuk Bimbingan Konseling (BK). Pada kelas 3 SMA sering kali pada jam tersebut diisi oleh berbagaimacam agen instasi pendidikan yang mempromosikan lembaganya dapat membantu memberangkatkan siapapun untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Biasanya negara yang paling banyak dipromosikan ialah Jerman, Singapore, Malaysia dan Jepang. Sebagian besar dari mereka memberikan gambaran betapa murah dan mudahnya kuliah di luar negeri beserta biaya-biaya persiapan sebelum berangkat.

Karena terdorong rasa penasaran dan termakan buaian kata-kata manis dari para pembicara maka saya pun menanyakan secara langsung kepada mereka diluar acara. Sebagian mejawab alakadarnya dan hanya memberikan selembar brosur, sebagian minta langsung datang ke kantornya, sebagian lainnya menawarkan untuk datang ke seminarnya, dan satu agensi yang langsung memberikan 1 amplop yang diclaim sebagai rinciannya dan menawarkan tiket seminarnya yang di jual dengan harga kalau tidak salah 50.000 IDR. Seketika saya pun mengecek isi dompet saya, dan Alhamdulillah bisa bayar itu, terbelilah tiket tsb.

Setiba dirumah saya sampaikan hal tersebut ke mama saya, pada saat itu mama saya terlihat pesimis akan hal tersebut dan seperti mangacuhkannya dengan alasan beliau melihat tidak masuk akal biaya yang dicantumkan pada brosur-brosur serta kertas didalam amplop tsb. Lalu beliau meminta saya untuk tidak usah datang ke seminar yang tiketnya telah saya beli tadi. Dengan perasaan cukup sedih dan kecewa saya seperti mau tidak mau suka tidak suka harus membuang tiket tersebut (berasa mau buang uang 50.000  rupiah !! ). Akhirnya saya menaruh amplop dan brosur-brosur tersebut diantara tumpukan kertas kerja mama saya tanpa beliau sadari, lalu saya menghubungi berberapa teman dekat yang sepertinya tertarik untuk datang seminar dan saya berikan tiket tersebut secara cuma-cuma tanpa perlu bayar. Alhamdulillah ada yang mau, meski tetep sungguh hati kecil merasa kecewa.

Dikesempatan lain saya juga mencoba keberuntungan lain dengan mengikuti seleksi 2 program yang cukup populer kala itu (mungkin hingga sekarang) yaitu pertukaran pelajar dan program beasiswa ke salah satu negara maju di Asia yang terkenal dengan kereta apinya. Sayangnya saya tidak lolos seleksi didua program tersebut. Namun hal itulah yang menjadi pecut saya dan sebagai penilaian diri dimana kemampuan saya sebenarnya.

Ketika ada kesempatan untuk mendaftar Universitas Negeri melalui jalur undangan. Saya pun mendaftarkan diri ke dua Universitas yang cukup ternama, yaitu di Ibu Kota dan Kota Angkot dengan jurusan yang sebenarnya saya sendiri dikala itu belum benar-benar yakin. Namun setelah berberapa bulan hasilnya Alhamdulillahnya saya tidak diterima dikedua tempat tersebut, kenapa bersyukur? mari lanjut membaca hehe

Ternyata berberapa waktu setelah pengumuman beasiswa ke Jepang keluar, mama saya menemukan amplop yang pernah saya berikan, beliaupun tanpa sepengetahuan saya mencari info mengenai kuliah di Eropa dan bertemu teman olahraganya yang ternyata anaknya satu angkatan SMP dengan saya namun beda SMA. Dari temannya tersebutlah mama saya mendapatkan info suatu agensi pendidikan dimana teman angkatan saya akan menggunakan jasanya. Setelah mama saya menghubungi agensi tersebut serta berbagai saran dari kerabat dekat mama saya, timbullah rasa semangat mama saya untuk menlanjutkan pendidikan saya ke Eropa melalui jasa agensi tersebut.

Pengumuman penerimaan Mahasiswa baru Jalur Undangan saya nanti dengan harap-harap cemas, karena saya sudah keine Lust untuk ikut ujian masuk Universitas Negeri Indonesia melalui jalur ujian tertulis. (sempat) ga ada niatan lagi untuk kuliah diluar negeri munkin karena mental masih down.

Singkat cerita karena sebelum pengumuman penerimaan MaBa keluar, saya telah mengikuti kelas belajar bahasa Jerman. Lalu saya ikuti alur yang telah saya ambil dengan berusaha sebaik mungkin mempelajari bahasa yang sangat baru dan susah untuk saya ini.

Tinggalkan komentar