
Beberapa waktu setelah mengikuti Ujian Nasional (UN) dan Ujian Akhir Sekolah (UAS) dipertengahan tahun 2013, sayang dan mama saya dengan cukup mantab menandatangani kontrak bersama sebuah Agensi Pendidikan. Agensi pendidikan inilah yang akan membantu persiapan langkah awal saya untuk melanjutkan pendidikan di negeri orang.
Setelah saya menandatangani kontrak tersebut, sayapun cukup excited namun juga belum seratus persen percaya bahwa langkah untuk merantau dapat dikatakan benar-benar didepan mata. Hingga artikel ini saya buat diawal tahun 2019 saya masih inget detik-detik tersebut.
Perjalan pulang setelah menandatangangi kontak tersebut sayalah yang mengendarai mobil tersebut hingga sampe rumah. Ntah mengapa saat itu saya merasa kurang enak badan seperti kecapean, hingga setelah tiba dirumah sayapun dapat dikatakan tumbang.
Hari pertama menjalani Sprachkurs di agensi tersebut saya mulai dengan menjalani kembali kehidupan sebagai AnKer (ANak KEReta) hanya saja berbeda Richtung, yang biasanya ke selatan kini menjadi ke utara alias ke Jakarta. Sudah menjadi hal yang tidak asing lagi berdesakan didalam kereta ekonomi tanpa AC.
Setelah keluar stasiun transit yang cukup besar dan padat saat itu saya harus mengambil transportasi massal lainnya, yaitu Bus yang memiliki halte khusus dan jalur khusus. Namun sayang sekali meskipun secara teori telah dispesialkan, dalam praktiknya transportasi masal tersebut tetap terlibat kemacetan ibu kota yang menjadi seperti tidak ada jalan keluar.
Sebelum pukul delapan pagi saya telah berada didepan gedung cukup tinggi yang berdiri di sebelah kanan jalan besar. Tanpa menunggu lama saya langsung menggunakan Lift dimana kelas pertama saya akan dimulai. Memasuki ruang tamu kantor Agensi tersebut ternyata telah menunggu para calon perantau dari berbagai daerah dipenjuru tanah air. Namun tiba-tiba ada yang menyapa saya dengan ceria yang ternyata dia adalah teman sekelas saat awal SMP dulu.
Tepat pukul 8 pagi para pengajar kami mempersilahkan kami masuk sekaligus membagi kami ke 2 kelompok dengan ruang kelas berbeda. kebetulan saya sekelas lagi dengan teman sekelas saat awal SMP dulu. Saat kelas telah dimulai, beberapa menit kemudian datang anak teman mama saya yang ternyata dulupun kami satu SMP namun beda level kelas.
Minggu pertama di kelas saya seperti masih roaming, belum dapat menyerap pelajaran dengan baik. Minggu tersebut kami diajar oleh 2 pengajar yang kita sebut saja Frau dan Herr Ikal (bukan panggilan asli mereka), minggu tersebut kami diperkenalkan berberapa hal mulai dari huruf dan angka dengan pelafalannya, kalimat perkenalan singkat, hingga aturan dasar menyusun kalimat dengan baik dan benar.
Namun keseharian saya tak melulu belajar bahasa asing tersebut tapi masih tetap diwarnai dengan melakukan hobby saya yaitu tetap berlatih dan bermain Tennis serta berkumpul dengan kawan-kawan Railfans meskipun intensitasnya sangat dikurangi. Hingga saat tersebut sejujurnya saya masih diambang kebimbangan apakah saya akan sanggup menjalankan kepercayaan orang tua untuk melanjutkan pendidikan saya ke Negara yang nun jauh disana, atau mengambil kuliah di Indonesia jika diterima undangan.
Hari demi hari berlalu dengan cepat, tak terasa saya makin mendekat dengan ujian Level bahasa level A1(level bahasa Jerman awal). Namun saya merasa kemampuan saya belum cukup baik. Setelah usaha yang sepertinya belum maksimal saya mendapatkan hasil Ausreichend, tentu bukan yang terbaik dikelas tapi juga bukan yang terburuk namun hampir ga lulus sepertinya.
Disaat yang hampir bersamaan keluarlah hasil penerimaan MaBa jalur Undangan. Saya merasa Mama saya berharap keterima atau tidak keterimanya saya di jalur undangan saya tetap mengambil keputusan untuk berangkat ke Jerman. Kelihatannya harapan mama saya saat itu dikhabulkan oleh Sang Maha Kuasa, sayapun tak diterima Undangan dan saya memantapkan diri untuk merantau.
Cukup banyak kawan saya kala itu yang tahu bahwa saya tidak keterima di jalur undangan dan tanpa saya minta pun mereka berinisiatif memberikan berbagaimacam info mengenai opsi2 lainnya seperti ujian penerimaan MaBa dari Universitas Negeri, swasta, Sekolah Tinggi hingga lapangan pekerjaan yang sesuai hobby saya yang mereka tahu (terima kasih banyak semuanya 😀 ). Namun saya tolak baik2 semua bahkan sayapun hanya menginfokan kesebagian kecil kerabat jika saya akan berangkat merantau karena berbagai alasan.